Minggu, 29 Desember 2019

Faiz Khitan


Selain pakai suntik anastesi, untuk menghilangkan perhatian, si Faiz juga pakai bius 'main games'.

SETIAP ikut saya berobat ke dr. Dhlorifuddin, si Faiz selalu ikut masuk ruang periksa. Di saat itu juga, pak dokter yang ramah ini selalu menggoda Faiz sambil iseng pegang 'burung' si bungsu saya ini. "Kapan sunat?" goda dokter.

"Nanti kalau libur semester", jawab Faiz.

Saya duga, walau bilang telah berani dikhitan, ia saya golongkan sebagai 'wani-wani angas' ( takut-takut tapi sok berani). Ini pengalaman saya dulu saat mau disunat.  Mau takut itu khitan adalah suatu kewajiban, mau berani kok membayangkan sakitnya itu sudah ngeri duluan. Iya sih, selalu ada orang yang bilang sakitnya dikhitan itu hanya seperti digigit semut. Ketahuilah, itu pernyataaan bohong! Lebih-lebih kalau yang bilang begitu seorang perempuan.😀

Dan, entah 'wani-wani angas' atau berani sungguhan, pada pagi 25 Desember kemarin si Faiz saya khitankan. Ke pak dokter Dhlorifuddin. Gak sakit saat disunat, pada saat siang barulah terasa panasnya. Sambil meringis menahan sakit, si Faiz bilang, "Ayah bohong, katanya sunat gak sakit. Aduuuh, ternyata perih. Padahal saat Upin-Ipin sunat, katanya juga gak sakit. Aduuh...."

"Iya, wis. Sekarang Ayah janji. Kamu gak akan Ayah sunatkan lagi..." ****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar