Kamis, 30 April 2020

Belajar Puasa

SEJAK usia berapa berpuasa?

Saya lupa. Yang jelas sejak kecil. Secara bertahap. Mula-mula puasa sampai dhuhur. Kuat, ditingkatkan lagi; sampai asyar. Satu-dua-tiga hari kuat, dinaikkan lagi; sampai maghrib. Tentu, sebagai anak-anak, tarafnya masih belajar. Masih penanaman. Bahwa, ibadah puasa ini sebagai kewajiban.

Bapak-ibu saya waktu itu harus begitu mengajari kami, anak-anaknya, untuk berpuasa. Walau sebagai anak-anak, saya lupa-lupa ingat, pernah mencuri-curi untuk mencucup air dari kendi saat siang sedang panas-panasnya, dan tenggorokan lagi haus-hausnya. Tak banyak sih. Cuma sampai klempoken saja.😀

Cara belajar berpuasa begitu pula yang saya terapkan kepada anak-anak saya. Si Sulung mengalami belajar berpuasa di sebuah desa Lamongan sana. Yang kalau siang panasnya minta ampun. Karena panas itu pula, setiap siang, saat puasa, si Sulung sering ke masjid, yang itu tak jauh dari rumah kami. Lengkapnya ke jeding masjid, tempat wudhu yang serupa bak mandi berukuran besar. Dengan air yang melimpah. Segar tentu saja. Untuk?

Mandi siang berlama-lama. Bersama teman-teman sebayanya. Mengguyur tubuh sekujur. Sambil minum? Ah, itu yang saya tidak tahu.😀

Nah, si Bungsu mengalami masa belajar berpuasa di Surabaya. Yang juga berhawa panas. Apakah dia pernah nyuri nyucup kendi atau mandi keramas sambil meneguk air jeding? Saya tidak punya kendi, yang ada malah lemari es.

Tempo hari, siang-siang, yang masih jauh dari waktu maghrib, dia ber-wasap di grup keluarga. Yang anggotanya cuma kita berempat; saya, Ibu Negara, si Sulung dan si Bungsu. Isi wasap-nya; bikin saya tersenyum. Si Bungsu minta dibelikan nasi bebek. Suatu permintaan yang langsung dikomentari kakaknya. Sebagaimana tampak pada skrinsyut di samping ini.😊