Jumat, 05 Oktober 2012
Dor, dor, dor....
TANPA direncana, kemarin (5 Oktober 2012, bertepatan dengan HUT TNI yang ke 67) si Faiz pakai setelan baju doreng yang dibelikan Bu En menjelang lebaran kemarin. Dengan memegang pistol mainan yang sudah rusak milik mas Kiki, ia bergaya ketika difoto Ayah Bapak. Lokasi pengambilan gambar di dekat 'hutan' bayam yang tumbuh subur di depan rumah.
Jumat, 31 Agustus 2012
Jumat, 24 Agustus 2012
Rabu, 22 Agustus 2012
Liburan Lebaran di KBS
KARENA adik Faiz sakit sehari menjelang Idul Fitri 1433 H, acara mudik yang sudah disusun rapi menjadi sedikit berantakan.
Pagi itu, (Sabtu 18 Agustus) setelah mengantar mas Edwin mudik bareng lik Is, lik Min, adik Iya dan Aji dari kawasan SIER, adik langsung diantar ke dokter. Luar biasa, sehari menjelang lebaran begitu, orang tua yang membawa anaknya berobat ke Balai Pengobatan Gotong Royong (Supit) sangat membludak. Adik faiz, yang sampai di tempat itu pukul 08.30, baru selesai pada pukul 12!
Karena sorenya adik Faiz masih panas dan sesekali muntah-muntah, terpaksa tahun ini berlebaran di Surabaya. Dengan rencana berlebaran di Lamongan dulu baru kemudian ke Jember, sehingga ibuk tidak menyiapkan bahan pangan yang mencukupi selama lebaran di surabya. Padahal banyak (hampir semua) penjual makanan di Rungkut pada hari lebaran begini semua mudik. Maka, lebaran hari pertama adik Faiz, ibuk dan bapak makan hanya pakai mie instan dan telur ceplok.
Baru besoknya, (Senin pagi, 20 Agustus) adik Faiz pulang ke Lamongan untuk berlebaran sekalian menjenguk mbah Buyut yang sedang sakit. Di Lamongan pun adik masih sesekali panas tubuhnya meninggi. Rupanga adik belum sehat betul.
Selasa pagi (21 Agustus) adik balik lagi ke Surabaya. dan Rungkut masih terasa sepi. Tetapi sudah ada beberapa penjual makanan yang buka.
Rabu pagi (22 Agustus), karena adik sudah lumayan sehat dan di sekitar rumah masih sepi-sepi saja, adik diajak bapak dan ibuk pergi ke Kebun Binatang Surabaya. Lama sudah bapak tidak ke Bonbin. Sejak Mas Edwin masih kecil dulu. Kata bapak sekitar tujuh tahun yang lalu.
Dan inilah beberapa foto adik ketika berlibur ke Bonbin yang sebenarnya hanya berjarak tujuh kilometer dari rumah bapak di Rungkut ini.
Pagi itu, (Sabtu 18 Agustus) setelah mengantar mas Edwin mudik bareng lik Is, lik Min, adik Iya dan Aji dari kawasan SIER, adik langsung diantar ke dokter. Luar biasa, sehari menjelang lebaran begitu, orang tua yang membawa anaknya berobat ke Balai Pengobatan Gotong Royong (Supit) sangat membludak. Adik faiz, yang sampai di tempat itu pukul 08.30, baru selesai pada pukul 12!
Karena sorenya adik Faiz masih panas dan sesekali muntah-muntah, terpaksa tahun ini berlebaran di Surabaya. Dengan rencana berlebaran di Lamongan dulu baru kemudian ke Jember, sehingga ibuk tidak menyiapkan bahan pangan yang mencukupi selama lebaran di surabya. Padahal banyak (hampir semua) penjual makanan di Rungkut pada hari lebaran begini semua mudik. Maka, lebaran hari pertama adik Faiz, ibuk dan bapak makan hanya pakai mie instan dan telur ceplok.
Baru besoknya, (Senin pagi, 20 Agustus) adik Faiz pulang ke Lamongan untuk berlebaran sekalian menjenguk mbah Buyut yang sedang sakit. Di Lamongan pun adik masih sesekali panas tubuhnya meninggi. Rupanga adik belum sehat betul.
Selasa pagi (21 Agustus) adik balik lagi ke Surabaya. dan Rungkut masih terasa sepi. Tetapi sudah ada beberapa penjual makanan yang buka.
Rabu pagi (22 Agustus), karena adik sudah lumayan sehat dan di sekitar rumah masih sepi-sepi saja, adik diajak bapak dan ibuk pergi ke Kebun Binatang Surabaya. Lama sudah bapak tidak ke Bonbin. Sejak Mas Edwin masih kecil dulu. Kata bapak sekitar tujuh tahun yang lalu.
Dan inilah beberapa foto adik ketika berlibur ke Bonbin yang sebenarnya hanya berjarak tujuh kilometer dari rumah bapak di Rungkut ini.
| Adik bergaya seperti pembalap. |
| Foto bareng ibuk sambil menunggangi patung singa. |
Senin, 19 Maret 2012
Puting Beliung
![]() |
| Mas Edwin saat kecil. Umur berapa ya? |
"Lihatlah," kata ibuknya Faiz. "Disana mungkin sudah hujan."
Saya melihat arah yang ditunjuk. Tetapi belum juga lampu hijau menyala, hujan langsung tiba-tiba menghunjam. Diposisi begitu, diapit mobil-mobil di lampu merah itu, kami yang bermotor sudah tentu langsung kuyup. Karena si mantel masih saya duduki di bawah jok motor.
Langsung saya minta ibuk turun dan menepi. Saya harus sabar sejenak menunggu lampu merah padam, dan saat lampu hijau membuka mata, saya tepikan si Supra saya dengan sekujur tubuh yang sudah basah. Yang ada dalam pikiran saya lebih penting Faiz. Si kecil saya yang baru berumur dua tahun.
Pohon-pohon di tengah jalan A. Yani tampak pontang-panting tertiup angin. Dan besoknya, ketika saya lihat foto-foto di Jawa Pos, beberapa gambar memperlihatkan pohon-pohon yang tumbang, mobil-mobil yang kejatuhan dan tampak ringsek.
Tentu saya masih harus bersyukur, hanya basah kuyup. Tak terbayangkan ketika berteduh kemarin, yang hanya dipinggir jalan, tiba-tiba pagar seng dipinggir jalan itu diterbangkan angin, betapa celakanya kami. Untunglah, sampai rumah di desa, si Faiz 'hanya' muntah-muntah karena masuk angin.
Sementara mas Edwin tidur di rumah, di Surabaya, ditemani Fani dan Ilham, sahabatnya.
Langganan:
Postingan (Atom)








