![]() |
| Mas Edwin saat kecil. Umur berapa ya? |
"Lihatlah," kata ibuknya Faiz. "Disana mungkin sudah hujan."
Saya melihat arah yang ditunjuk. Tetapi belum juga lampu hijau menyala, hujan langsung tiba-tiba menghunjam. Diposisi begitu, diapit mobil-mobil di lampu merah itu, kami yang bermotor sudah tentu langsung kuyup. Karena si mantel masih saya duduki di bawah jok motor.
Langsung saya minta ibuk turun dan menepi. Saya harus sabar sejenak menunggu lampu merah padam, dan saat lampu hijau membuka mata, saya tepikan si Supra saya dengan sekujur tubuh yang sudah basah. Yang ada dalam pikiran saya lebih penting Faiz. Si kecil saya yang baru berumur dua tahun.
Pohon-pohon di tengah jalan A. Yani tampak pontang-panting tertiup angin. Dan besoknya, ketika saya lihat foto-foto di Jawa Pos, beberapa gambar memperlihatkan pohon-pohon yang tumbang, mobil-mobil yang kejatuhan dan tampak ringsek.
Tentu saya masih harus bersyukur, hanya basah kuyup. Tak terbayangkan ketika berteduh kemarin, yang hanya dipinggir jalan, tiba-tiba pagar seng dipinggir jalan itu diterbangkan angin, betapa celakanya kami. Untunglah, sampai rumah di desa, si Faiz 'hanya' muntah-muntah karena masuk angin.
Sementara mas Edwin tidur di rumah, di Surabaya, ditemani Fani dan Ilham, sahabatnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar