Rabu, 09 Oktober 2019

Lipatan Liputan

Edwin masuk terminal
keberangkatan domestik bandara Juanda.
HARI Jumat pagi kemarin saya dan Faiz mengantar Edwin berangkat liputan ke Jakarta. Kali ini lebih tenang. Selain karena ini sudah tugas liputan ke dua di Ibu Kota, untuk event Synchonize Festival 2019 pada penugasan sekarang ini dia berangkat berdua. Bersama dengan fotografer.

Hasil liputan Edwin.
Lain halnya saat liputan pertama dulu. Pada ajang Asia-Africa Film Festival, April lalu. Sudah tugas sendiri, dia sama sekali belum pernah ke Jakarta, belum pernah naik pesawat pula. Bisa jadi dia malah senang dan santuy-santuy saja di sana. Namun sebagai ortu, saya dan Ibu Negara malah yang kepikiran.

Bagaimana dia di sana, sudah sholat apa belum, sudah makan atau belum? Dua hal itu yang kalau di rumah sebagai bahan 'khutbah' harian saya kepadanya. Begadang di kantor atau ngumpul menggarap tugas kuliah bersama kawan-kawannya sampai larut malam bahkan hingga dini hari. Membuat kalau waktunya subuh gak dibangunkan, ya... wes-ewes-ewes, bablas subuhnya!

Dan yang tak kalah bikin risaunya; saat selesai tugas liputan dan mesti balik lagi ke Surabaya. Saya bolak-balik wanti-wanti jangan sampai bangun kesiangan. Sehingga bisa terlambat sampai ke bandara Soekarno-Hatta. Kalau sampai kepancal pesawat dan tertinggal, wah piye jal?
Saat liputan AAFF 2019
April lalu.

Liputan kali ini juga begitu. Secara jadwal padat sekali. Sampai minggu tengah malam masih liputan. Padahal  Senin tanggal 7 kemarin, sudah harus kuliah. Jadwal hari pertama UTS menunggu. Pagi. Dan lewat wasap dia berkabar. Semalaman tidak tidur. Check out dari hotel dini hari. Sepulang liputan. Sekadar ambil barang. Lalu langsung ke bandara Soetta. Saya pesan diusahakan harus tidur. Barang sebentar. "Iya, tadi sempat merem sebentar di taksi, dalam perjalanan dari hotel ke bandara," ia mengabari setibanya di bandara Soetta.

Secara jadwal, pesawat yang ditumpanginya mendarat di Juanda jam 06.00 WIB. Itu secara jadwal. Padahal, adalah sudah hal lumrah maskapai yang ditumpangi anak saya dan temannya itu sering delay. Ibarat pepatah Jawa (plesetan); isuk tempe sore delay. 

Rencana awal, saya yang menjemput. Senin pagi. Pakai motor. (Jalanan Surabaya di jam-jam orang berangkat kerja padat sekali. Motor memungkinkan saya untuk lebih gesit bermanuver. Sesekali zig-zag; zig ke kiri, zak ke kanan. Lalu tancap gas pol. Seperti Marc Marquez. Agar si Edwin bisa segera sampai kampus. Ikut UTS. Kalau pakai mobil, ah, saya belum punya ding!😀).  Namun apa daya, Sabtu dengkul saya cedera. Sampai Senin pagi masih sakit. Sulit ditekuk. Bunyi mak-cekluk!

Jadinya ya... tidak bisa menjemput. Dia dan temannya naik taksi. Untunglah jam UTS dimulai setengah delapan. Lewat WA dia berkirim foto telah berada di kelas.  Tujuh menit sebelum ujian dimulai. *****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar