HARI ini berlangsung seperti biasa. Pagi-pagi sarapan lauk ayam guring dan eseng-eseng kacang panjang. Lauk itu pula yang saya nikmati di saat makan malam barusan. Bahkan menu itu pula yang menjadi kandidat terkuat sebagai menu makan sahur pertama nanti.
Padahal hari ini, sesuai tanggal yang tertera di KTP adalah ultah saya (walau sejatinya saya ragu tanggal lahir saya adalah itu, namun apa boleh buat). Ulang tahun? Seumur-umur hari ultah saya tiada istimewa. Seingat saya. Mungkin dulu, saat kecil, pernah diistimewakan. Oleh kakek-nenek dan Ibu. Dibuatkan jenang abang, bubur merah. Sebagai tetenger, saat weton saya. Entah kapan terakhir kali saya diselamati dengan begitu.
Sampai hari ini, sampai seumur ini.
Barusan saya sudah makan malam ketika abang Gojek mengetuk pintu. Ada dua kardus pizza diantarkan. Tertera si Mbarep sebagai yang memesan. Ia sendiri belum pulang. Mungkin masih di perjalanan, dari kerja.
"Ini untuk ultah Bapak", kata si mbarep setiba di rumah.
Tentu saya terima dengan rasa terima kasih. Tentu juga saya memakannya dengan yaaa... begitulah. Maklum, lidah saya ini terlanjur agak sulit diajak move on, sulit diajak naik kelas. Menikmati menu ala orang kutit, orang kota. Maunya menu ndeso melulu.
Kalaulah si mbarep sebelum beli menu ala negeri Valentino Rossi itu memberi opsi, tentu saya minta dibungkuskan nasi dari warteg yang baru buka di dekat toko Pangestu itu saja. Bukan apa-apa, saya cuma penasaran. Maklum, belum pernah makan menu warteg. Dan warteg yang sudah lazim di Jakarta, belakangan mulai bermunculan di Surabaya. *****

Tidak ada komentar:
Posting Komentar